Biagio Russu (telegraph)

Biagio Russu, Bayi Pertama Hasil Screening Kromosom  

Biagio Russu (telegraph.co.uk)
Biagio Russu (telegraph.co.uk)

OXFORD – Biagio Russu menjadi bayi pertama di Inggris yang lahir dari hasil screening kromosom, sebuah teknologi baru untuk membantu pasangan suami-istri yang sulit memperoleh keturunan. Biagio lahir pada Januari tahun ini setelah kedua orangtuanya, pasangan Sergio Russu (42) dan Ewa Wybacz (36), bertahun-tahun gagal memperoleh keturunan secara alami.

Dilansir Telegraph, Senin (8/5/2016) waktu Inggris, pasangan tersebut kemudian memilih proses In Vitro Fertilization (IVF), sebuah teknik pembuahan untuk meningkatkan kesuburan.  Mereka adalah pasangan pertama di Inggris yang mendapat tawaran Next Generation Sequencing untuk menjalani program pembuahan tersebut.

Ini bukan teknik IVF biasa, melainkan sebuah teknik genetik yang memeriksa kromosom pada sel telur secara teliti sebelum dibuahi. Teknik ini hanya memilih kromosom yang sehat dan memiliki kesempatan keberhasilan tertinggi.

Asal tahu, lebih dari lima puluh persen embrio tak memiliki jumlah kromosom yang tepat untuk sebuah kehamilan yang sukses. Persoalan ini menyumbang hampir tigaperempat kasus keguguran pada ibu hamil. Kelainan kromosom juga dapat menyebabkan gangguan genetik (pada bayi yang lahir) seperti Sindrom Down.

Melalui teknik screening kromosom embrio di Oxford Fertility,

Sergio Russu menggendong putranya, Biagio Russu. (Telegraph)
Sergio Russu menggendong putranya, Biagio Russu. (Telegraph)

ditemukan bahwa pasangan suami-istri menghasilkan 10 embrio selama IVF. Dari 10 embrio, hanya tiga yang memiliki satu set kromosom normal dalam sel mereka.

Biasanya, embrio hanya dipilih berdasarkan penampilan dan seberapa baik embrio tersebut mampu berkembang sebelum implantasi atau penanaman ke dalam rahim. Tetapi menggunakan teknik baru ini, Ny Wybacz bisa langsung hamil.

Kemungkinan kehamilan setelah IVF dapat mentransfer dua embrio, dimana berpeluang menghasilkan kelahiran kembar, tetapi hal tersebut dianggap berisiko.

“Menurut saya ini penting, karena kami bisa menempatkan kembali embrio dan mewujudkan kelahiran normal secara genetik.  Dengan cara ini, kita dapat memaksimalkan keberhasilan memiliki anak. Ini juga membuat pasangan tidak membuang-buang embrio yang dibekukan namun tidak dapat memastikan apakah embrio tersebut akan sukses. Sungguh menarik bahwa rasio embrio layak dan tidak layak dalam hal ini adalah rasio yang sama yang kita hasilkan untuk kehamilan IVF,” kata Tim Child, Professor Madya dari Oxford Fertility.

Kista ovarium

Sergio Russu adalah seorang ilmuwan yang tinggal bersama Wybacz di Swindon mengatakan, mereka berharap menjadi sebuah keluarga besar suatu hari nanti. Pasangan ini telah membekukan dua embrio sehat lainnya yang telah dipilih melalui teknik screening.

Wybacs diduga susah hamil lantaran memiliki kista ovarium. Di samping itu, dia juuga pernah menjalani operasi usus buntu yang meninggalkan jaringan parut.

“Istri saya telah diberitahu bahwa ia tidak akan pernah memiliki anak karena terdapat jaringan parut akibat operasi usus buntu dan kista ovarium. Itulah mengapa kami tidak pernah menggunakan kontrasepsi tapi tidak terjadi kehamilan,” tutur Sergio.

“Kami memutuskan untuk mencoba IVF dan ketika dokter melakukan tes, mereka benar-benar tidak bisa menemukan penyebab tidak terjadi kehamilan. Jadi mereka menawarkan teknik screening baru ini kepada kami.  Kami diberitahu bahwa kemungkinan keberhasilan rendah, tapi Ewa langsung hamil dan semuanya berjalan sesuai rencana,” ujar Sergio.

Biagio Russu (telegraph)
Biagio Russu (telegraph)

“Biagio bayi yang cantik dan sehat. Kehadirannya sangat membahagiakan dan kami tidak bisa meminta lebih. Lebih membahagiakan lagi, kami masih memiliki embrio (yang sudah dibekukan) untuk mempertahankan keturunan. Saya merasa sangat beruntung,” imbuh dia.

Pasangan ini merupakan bagian dari percobaan yang sedang berlangsung untuk menilai efektivitas teknik baru screening kromosom.

“Tes genetik baru ini berpotensi besar untuk meningkatkan kesuburan. Kami berharap hasil tes ini bisa menjangkau semua pasien yang menjalani IVF, tidak hanya orang kaya. Kami sangat senang dapat membuat Next Generation Sequencing tersedia untuk pasangan infertil di seluruh Inggris,” ujar Dagan Wells, Professor Madya dari Universitas Oxford.

“Sangat menyenangkan melihat bahwa semangat inovasi ilmiah yang menyebabkan perkembangan di negeri ini masih hidup dan terus bermanfaat bagi pasien,” tutup Wells. (*)

Biagio Russu is the first baby in Britain to born through a ground-breaking new fertility technique  CREDIT: SERGIO RUSSU