Category Archives: HUKUM

HUKUM DAN KRIMINAL

Waspadai Modus Kejahatan: Rumah Anda Ditandai “Petugas PLN” dengan Stiker

Cerita Seseorang Bernama Lina; Copas dari Grup WA

Ciri Petugas PLN Asli
Aku mengalami, selasa tgl 24 Mei 2016 baru dua hr yg lalu. Dimasukin ngaku dr PLN, dan salahnya aku bukain pagar krn aku pikir dia mau foto meteran listrik. Gak taunya dia masuk ke rumah dan setiap kamar dimasukkin krn mau test saklar listrik.
Continue reading Waspadai Modus Kejahatan: Rumah Anda Ditandai “Petugas PLN” dengan Stiker

Tujuh Perampok Bersenjata Api Berkeliaran di Batam

PERISTIWA horor terjadi lagi di Kota Batam. Sekelompok perampok bersenjata api melakukan aksi di Toko Sumber Kita, sebuah grosir sembako tak jauh dari perumahan Dotamana, Batam Centre, Minggu (12/6/2010). Seorang perampok tewas tertembak polisi, sementara pemilik toko, A Kiong, mengalami luka bacok di kepala dan dilarikan ke Rumah Sakit Otorita Batam (RSOB).

Hingga pukul 23.00 WIB, sejumlah petugas kepolisian dari Polsek Batam Kota masih berjaga di lokasi kejadian. Beberapa petugas menggunakan laptop, mengunduh data dari CCTV. Menariknya,  CCTV tersebut baru dipasang sekitar dua hari sebelum perampokan itu terjadi.   Continue reading Tujuh Perampok Bersenjata Api Berkeliaran di Batam

Pedang Keadilan untuk Kaum Tertindas

Koin untuk Prita
Koin untuk Prita

PRITA Mulayasari, Mbok Minah, Manohara Odelia Pinot, Sri Gayatri,  Aldiansyah, dan Seto Mulyadi, ‘diganjar’ “Pedang Keadilan Award” oleh Lumbung Informasi rakyat (LIRA). Mereka dinilai konsisten dan tegar memperjuangkan hak-hak dan keadilan bagi perempuan dan anak Indonesia.  Penghargaan ini diberikan dalam rangka memperingati Hari Ibu, yang jatuh pada 22 Desember mendatang.

Prita menjadi fenomena dalam penegakan hukum di Indonesia setelah dirinya diperkarakan oleh pihak rumah sakit Omni Internasional, Tangerang, dalam kasus pencemaran nama baik rumah sakit tersebut melalui tulisannya di milis.

Ibu rumah tangga itu divonis denda Rp 204 juta oleh Pengadilan Tinggi Tangerang. Sempat ditahan selama 21 hari dan masih harus berhadapan dengan perkara pidana dengan ancaman hukuman 6 tahun penjara. Vonis tersebut menghentak rasa keadilan publik. Masyarakat dari penjuru republik mengumpulkan koin untuk membayar denda tersebut. Terkumpul lah koin, mata uang ‘tak berharga’, mencapai lebih dari Rp 600 juta.

Nasib Mbok Minah alias Ny Sanrusdi (55) lebih buruk lagi. Dia berurusan dengan hukum hanya gara-gara ‘mencuri’ tiga butir kakao dari perkebunan milik PT Rumpun Sari Antan (RSA). Padahal dia tak sempat membawa pulang tiga butir kakao yang hendak dijadikan bibit itu. Dia langsung minta maaf dan mengembalikan kepada mandor perkebunan tersebut. Tapi hakim Pengadilan Negeri Purwokerto memvonis 1,5 tahu penjara untuk perempuan tua, miskin, melarat, dan buta huruf ini.

Sri Gayatri adalah nasabah Bank Century yang dirampok sendiri oleh para pemilik bank itu sendiri. Perempuan asal Surabaya ini kehilangan uang Rp 70 miliar. Dia pun menjadi sangat vokal, terus berjuang agar uangnya kembali. Kevokalannya  menyuarakan aspirasi kepada Bank Century, penegak hukum (Polri) dan DPR,  menarik perhatian publik. Kasus ini terus menggelinding dan kini menjadi persoalan hukum sekaligus politik, mengguncang pemerintah karena beraroma korupsi triliunan rupiah.

Muhammad Aldiansyah Nasution (10), disiksa ayah tirinya, Dendi Sutrisna (35), hingga babak belur. Dia disiksa hanya gara-gara tidak menemukan Lisa, ibunya, ketika disuruh sang ayah mencari. Kedua tangan diikat dengan ikat pinggang, kakinya diikat dengan kain, wajahnya dipukuli sampai lebam. Sebuah galon air pecah dipukulkan ke tubuh si tukang semir cilik itu.

Manohara Odelia Pinot, juga menerima anugerah tersebut, karena gigih memperjuangkan keadilan yang sudah semestinya menjadi haknya sebagai manusia merdeka. Dia berjuang keras melepaskan diri dari cengkerangan suaminya, pria bangsawan Kerajaan Kelantan, Malaysia. Perjuangannya ‘menelanjangi’ sistem pelayanan negara terhadap rakyat. Menggambarkan betapa sulitnya seorang warga negara memperoleh keadilan maupun dukungan negara terhadap warganya yang teraniaya oleh bangsa lain.

Di antara para penerima anugerah Pedang keadilan, ada juga nama Seto Mulyadi. Pria yang akrab disapa Kak Seto ini adalah Ketua Komisi nasional Pelindungan Anak Nasional dan nyaris sepanjang hidupnya dia akrab dengan anak-anak. Dia secara konsisten memperjuangkan hak-hak anak di seluruh Indonesia.

Sosok-sosok penerima penghargaan itu adalah simbol perlawanan rakyat terhadap praktik hukum yang kian tak berpihak kepada orang-orang kecil dan lemah. Juga sosok yang menentang ketidakadilan terhadap hak-hak dasar manusia. Mereka menjadi simbol perjuangan untuk melindungi dan meraih kembali hak-hak rakyat, terutama kaum yang lemah di hadapan hukum.

Pedang Keadilan Award sekaligus merupakan pedang yang bisa ‘dihunus’ melawan hukum yang kian tak mampu menjawab rasa keadilan publik. Sesungguhnya, segenap rakyat bangsa ini adalah pedang itu sendiri. Manakala hukum tak lagi bisa diandalkan, maka publik akan bertindak menggantikannya.

Pedang Keadilan merupakan bentuk peringatan bagi para (oknum) penegak hukum; polisi, jaksa, hakim yang suka mempermainkan dan memperjualbelikan hukum, bahwa sekarang, solidaritas rakyat telah berubah menjadi sebilah ‘pedang’ terhunus yang siap melawan kesewenang-wenangan orang-orang yang senantiasa mengangkangi hukum  dan menindas kaum lemah.(*)

12 Pria Perkosa Remaja 14 Tahun

Ilustrasi (Beritabali.com)

USAI menenggak minuman keras, belasan pria bejat memperkosa seorang remaja perempuan yang baru berusia 14 tahun. Satu di antara 12 pelaku adalah pacar  korban sendiri. Semua tersangka kini masih buron.

Pemerkosaan tersebut terjadi pada Sabtu (12/12/2009) dinihari, sekitar pukul 01.00 Wita di kawasan Pelabuhan Mercusuar, Manado, Sulawesi Utara. Awalnya remaja asal Tomohon itu diajak oleh pacarnya, seorang pemudia berinisial RY, ke lokasi kejadian.

Di lokasi tersebut, pemuda itu memaksa korban menenggak minuman keras jenis Cap Tikus dicampur Frutamin dan obat perangsang. Setelah korban mabuk berat, RY pun memperkosanya. Selanjutnya dia menyerahkan korban kepada 11 temannya yang kemudian memperkosa korban secara bergiliran. Belasan pria itu berinisial AN, EV, IS, HE, AG, NI, KA, AL, RI, RE, dan AM.

Usai melampiaskan nafsu bejatnya, para pemuda itu meninggalkan korban tergeletak di lokasi. Setelah sadar, korban langsung melaporkan perbuatan mereka ke Markas Kepolisian Sektor (Mapolsek) Wenang.
Kendati masih remaja, korban diketahui sudah putus sekolah. Selama ini dia tinggal bersama neneknya di Pasar Bersehati Manado.

Kapolsek Wenang, AKP Anthony Weno, mewakili Kapoltabes Manado Kombes Aridan Roeroe, membenarkan telah menerima laporan pemerkosaan itu. Kini polisi masih mengejar para pelaku. Menurut Weno, para pelaku akan dijerat menggunakan Pasal  82, UU No 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak. Ancaman hukumannya 15 tahun penjara.

“Pelaku melakukan tipu muslihat untuk melancarkan aksi bejatnya. Itu sudah sesuai (melanggar) pasal 82 UU Perlindungan Anak,” jelasnya.

Siap dampingi
Komisi Daerah Perlindungan Anak (Komda PA) Sulawesi Utara, siap mendampingi korban pemerkosaan oleh belasan pemuda. “Kejadian ini memang sangat disesalkan bisa sampai terjadi, apalagi dilakukan oleh orang terdekat,” kata Ketua Komda PA, Aryanti Baramuli Putri.

Dia menyarankan agar selain melapor polisi, korban juga segera ke rumah sakit untuk melakukan visum. “Saya yakin pihak kepolisian segera menuntaskan masalah ini dengan cepat,” katanya.

Sebagai langkah awal, menurut Aryanti, Komda PA akan mendatangi korban dan melihat keadaan psikologisnya. Sebab, berdasar pengalaman menangani korban pemerkosaan, mereka kerap mengalami trauma. “Apalagi korban masih tergolong dibawah umur. Biasanya, trauma yang ditimbulkan bisa memberikan dampak tidak baik terhadapa perkembangan korban,” tuturnya.

Hal senada disampaikan Jull Takaliuwan, Ketua Harian Komda PA Sulut. Kata dia, pendampingan yang akan dilakukan oleh Komda PA, antara lain rehabilitasi perkembangan psikologis korban. “Karena korban sudah melapor ke polisi, kita akan memastikan apakah korban sudah divisum atau belum. Kalau belum, kita akan membawa korban untuk divisum,”ujarnya.

Takaliuwan menambahkan, perlu dilihat juga para pelaku pemerkosaan tersebut, apakah masih di bawah umur atau tidak. Sebab, menurut Takaliuwang, jika para pelaku tergolong di bawah umur, mereka juga berhak untuk mendapatkan pendampingan dari Lembaga Bantuan Hukum Anak. “Yang pasti kita tetap akan mendampingi dan mengawal kasus ini hingga tuntas,” tandasnya.

Lepas kontrol
Rodrigo Elias, Kriminolog Universitas Sam Ratulangi, sangat menyesalkan tindakan pemerkosaan terhadap remaja oleh belasan pria sekaligus. Apalagi perbuatan bejat itu dilakukan setelah mereka menenggak minuman keras jenis Cap Tikus.

“Kalau sudah minum Cap Tikus ini, sudah out of control (lepas kendali). Seseorang yang meminum Cap Tikus akan mendapatkan keberanian ekstra, kekuatan ekstra, dan pastinya tidak bisa mengendalikan emosi. Orang yang sudah mabuk, jika ia melihat ada kesempatan atau peluang, maka akan secara refleks akan timbul niat untuk melakukan sesuatu,”jelasnya.

Apalagi, lanjut Rodrigo, jika dalam kondisi beramai-ramai, orang yang sudah mabuk akan lebih berani dan tanpa berpikir panjang. “Karena mereka sudah dipengaruhi oleh minuman keras. Akan lebih bahaya lagi jika sudah dicampur dengan bermacam-macam bahan, seperti obat perangsang atau minuman lainnya. Reaksi yang ditimbulkan akan lebih parah dan lebih cepat,”ujarnya.

Dia mengimbau semua kalangan untuk sebisa mungkin menghindari minum minuman keras. Juga meminta pihak terkait untuk mengontrol peredaran minuman beralkohol itu.(sumber:tribun manado)

Bailout Century Tabrak Aturan BI

Pengucuran dana talangan (bailout) kepada Bank Century ternyata menabrak Peraturan Bank Indonesia (PBI) No 10/30/2008 yang menyatakan bahwa bank boleh mendapatkan Fasilitas Pendanaan Jangka Pendek (FPJP) bila nilai kecukupan modal (CAR) bank tersebut positif.  Faktanya, Bank Century yang sudah dinyatakan bangkrut malah digerojok dana triliunan rupiah.

  • Aset per September 2008: Rp 15 T, hanya 0,65 persen  dari aset perbankan nasional sebesar Rp 2.300 T.
  • Modal Century Rp 600 M, waktu diputuskan sebagai bank gagal.
  • Rasio kecukupan modal (CAR) minus 3,5 persen
  • Setelah suntikan pertama Rp 2,7 T, Bank Century tak kunjung membaik lalu disuntik lagi sampai Rp 6,7 T.
  • Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) menemukan 50 transaksi mencurigakan di Bank Century.

PROSES BAILOUT

Berikut kronologi bailout ke Bank Century:

  • 21 November 2008 Menkeu Sri Mulyani pimpin rapat Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KKSK), dihadiri Gubernur BI Boediono, Deputi-deputi Senior BI, Ketua LPS, Ketua Bapepam-LK, dan Dirut Bank Mandiri
  • Berdasar notulen diputuskan, penyehatan Bank Century perlu suntikan modal (bailot) Rp 632 M.
  • Nilai itu lebih rendah dari persetujuan DPR sebesar Rp 1,3 – 1,6 T.
  • 23 November 2008 – 1 Desember 2008, Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) suntik Rp 2,7 T ke Bank Century.
  • 9 – 30 Desember 2008, LPS suntik lagi Rp 2,2 T
  • 4 – 24 Februari 2009,  suntik lagi Rp 1,2 T.
  • 24 Juli 2009, suntik lagi Rp 630 M
  • Total bailout jadi Rp 6,76 T atau mencapai sepertiga aset LPS (Rp 18 T).

HANYA BUTUH RP 1,5 T

  • Deposito Budi Sampoerna yang disikat Robert dan Dewi Tantular di Bank Century hanya sebesar 18 juta dolar AS (sekitar Rp 180 miliar)
  • Kredit fiktif Rp 181 M. Aset yang ditaruh di LN oleh Hasyim Warraq dan Rafat Ali Rizvi sebesar 156 juta dolar AS (sekitar Rp 1,5 triliun).
  • Jumlah uang nasabah di Antaboga Rp 470 M.
  • Total jendral sekitar Rp 2 T.
  • Tapi karena Antaboga tidak dibayar, maka total kebutuhan dana Century hanya Rp 1,5 T. Kenapa LPS beri suntikan hingga Rp 6,76 T? (*)

Artikel terkait:  Satu Kasus Dua Kronologi (Bailout Century)


Lawan Korupsi Sekarang!

HARI ini, Selasa 9 Desember 2008, merupakan hari Antikorupsi Internasional. Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menggunakan tema seperti judul tulisan ini, “Lawan Korupsi Sekarang”!

Korupsi adalah hasil persilangan antara keserakahan dan ketidakpedulian sosial. Yang tega melakukan korupsi adalah mereka yang tidak dapat mengendalikan keserakahan dan tidak peduli atas dampak dari perbuatannya terhadap bangsa dan negara.

Kita semua tahu bahwa bangsa Indonesia terpuruk oleh korupsi dan perilaku koruptif berbagai kalangan. Mulai dari pejabat negara, penegak hukum, pengusaha, bahkan pegawai biasa.  Wartawan pun tak luput dari perilaku buruk ini.

Masing-masing melakukan korupsi dalam berbagai bentuk dan rupa. Tampaknya hampir semua unsur di negeri ini seperti tak bisa menahan diri terhadap perilaku koruptif.  Karena itu, dengan peringatan hari Antikorupsi Internasional ini, kita perlu kembali berkomitmen untuk sama-sama melawan korupsi.

Continue reading Lawan Korupsi Sekarang!

Ternyata Korban Ryan Ada 5 Orang

Empat mayat dalam kantong, korban pembunuhan Ryan yang dikubur di belakang rumah orangtuanya di Jombang, Jawa Timur. (Foto: Surya/doso priyanto)
Empat mayat dalam kantong, korban pembunuhan Ryan yang dikubur di belakang rumah orangtuanya di Jombang, Jawa Timur. (Foto: Surya/doso priyanto)

VERRY Idham Henyaksyah (30) alias Ryan, bukan pembunuh biasa. Pria ini tergolong pembunuh berdarah dingin. Dia telah menghabisi lima orang dan empat di antaranya dikubur di belakang rumah orangtuanya di Dusun Maijo, Desa Jatiwates, Kecamatan Tembelang, Jombang, Jawa Timur.

Pembongkaran jenazah para korban dilakukan setelah proses rekonstruksi pembunuhan Aril Somba Sitanggang (34), selama selama 1,5 jam, Senin ( 21/7/2008 ). Tiga kali Ryan dipanggil keluar rumah untuk menunjukkan di mana lokasi persis korban-korbannya dikubur. Akhirnya Tersangka mengakui bahwa jenazah Aril dikubur di belakang rumah orangtuanya.

Di luar dugaan, tak hanya jenazah Aril yang ditemukan di pekarangan belakang rumah Ryan, melainkan masih terdapat tiga jenazah lagi. Semuanya sudah membusuk. Pembongkaran dilakukan oleh Polda Metro Jaya bersama Polda Jatim dan Polres Jombang.

Namun keempat jenazah itu tidak dimutilasi sebagaimana yang dilakukan Ryan terhadap Heri Santoso (40) yang dihabisi di Ragunan, lalu dipotong menjadi 7 bagian dan dibuang di Jl Kebagusan Raya, Jakarta Selatan.
Jenazah Aril dan tiga korban lainnya telah diautopsi di RS Bhayangkara Polda Jawa Timur sekitar pukul 18.15 WIB.

Tiga korban selain Aril adalah Guntur, warga Nganjuk, yang dibunuh Ryan sekitar Juni-Agustus 2007, Brandy (warga negara Belanda) yang tewas dihabisi Januari 2008, dan Vencent asal Solo karyawan Toko Court Jombang dan Aril dihabisi sekitar April 2008. Ryan menghabisi korban-korbannya menggunakan linggis dan batu.

“Rata-rata menggunakan linggis atau batu,” kata Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Metro JayaKombes Pol Carlo Brix Tewu.

Pencari mayat terkejut
Proses penggalian jenazah berlangsung cukup lama. Dimulai pukul 10.00 dan baru berakhir pukul 14.45. Dengan ketua tangan diborgol, Ryan diminta menunjukkan lokasi dirinya ‘menanam’ para korbannya. Pertama ditemukan jenazah Aril yang dikubur di pekarangan belakang, persis di belakang kamar mandi.

Beberapa pekerja warga setempat dibantu polisi menggali lokasi yang ditunjuk. Tak lama, muncul kaki manusia yang sudah membusuk. Para penggali pun melanjutkan hingga seluruh sosok jenazah tergali. Tapi para penggali kaget, karena saat seluruh tubuh jenazah sudah terlihat, mendadak seorang penggali menemukan kaki dari lain, tak jauh dari lubang tersebut. Ryan pun dicecar petugas soal keberadaan jenazah itu.

Akhirnya dia mengakui, dalam lubang tersebut terdapat tiga jenazah dan di lubang lain yang berjarak sekitar lima meter arah utara dari lubang pertama, terdapat satu jenazah lagi. Pencarian dan penggalian pun dilanjutkan.
Setelah empat jam lebih, yakni sekitar pukul 14.45, ditemukan lagi dua jenazah, satu di lubang pertama dan satu lagi di lubang kedua. Semuanya sudah membusuk. Jenazah langsung dimasukkan dalam dua kantung jenazah. Jenazah ketiga berhasil dievakuasi 30 menit kemudian dari lubang pertama, dan 20 menit kemudian satu jenazah lagi berhasil diangkat dari lubang sedalam 1,5 meter berukuran 2,5 x 3 meter.

Sewa penggali lubang
Kepala Desa Jatiwates Machmud menginformasikan, untuk menggali lubang bagi pemakaman salah satu atau beberapa jenazah tersebut, Ryan menggunakan jasa tenaga kerja kasar dari luar desa. Tenaga kerja itu diminta menggali lubang dengan alasan untuk lubang pembuangan air dari kamar mandi.

Setiap kali jenazah -jenazah itu diangkat dari lubang, ratusan warga yang menonton proses tersebut berkali-kali berdecak dan menggelengkan kepala tanda keheranan atas perilaku tersangka. Selanjutnya empat jenazah diangkut ambulans ke RS Bhayangkara Surabaya untuk diautopsi. Sedangkan Ryan atau di desa setempat akrab dipanggil Hansyah, dibawa ke Mapolda Jatim di Surabaya.

Kombes Carlo Tewu mengungkapkan, penggalian jenazah itu merupakan pengembangan kasus tertangkapnya Ryan di Jakarta atas dugaan pembunuhan terhadap Aril. Soal motif pembunuhan, Kombes Carlo Tewu belum bisa menyimpulkan karena masih dalam proses pemeriksaan.

Polisi telah menetapkan Ryan sebagai tersangka mutilasi atas Heri Santoso di Ragunan. Dia dikenakan pasal 365 tentang pencurian yang menyebabkan orang lain meninggal dunia. Hingga kini polisi masih mencari korban Ryan lainnya. “Kalau memang ada anggota keluarga yang hilang bisa menghubungi Polda Metro Jaya. Soalnya mungkin saja masih ada korban-korban lainnya,”ujar Kombes Carlo Tewu.(*)