Category Archives: HUMANIORA

Teologi, Filsafat, Hukum, Sejarah, Filologi, Bahasa, Budaya & Linguistik (Kajian bahasa), Kesusastraan
Kesenian, Psikologi

Mendikbud Terbitkan Aturan Melarang Perpeloncoan Terhadap Siswa Baru

Siswa SD pun sudah ada MOS. (sumber: sekolahdasar.net)
Siswa SD pun sudah ada MOS. (sumber: sekolahdasar.net)

KEMENTERIAN Pendidikan dan Kebudayaan, di bawah kendali Anies Baswedan, melarang segala bentuk perpeloncoan terhadap siswa baru level SMP dan SMA/SMK melalui Peraturan Mendikbud No 18 Tahun 2016.

Para siswa baru tidak boleh disuruh membawa atribut aneh-aneh sebagaimana biasa terjadi pada kegiatan masa orientasi sekolah (MOS) atau biasa juga disebut Opspek. Jenis kegiatan dalam MOS wajib disampaikan kepada orangtua/wali murid.
Continue reading Mendikbud Terbitkan Aturan Melarang Perpeloncoan Terhadap Siswa Baru

Wow! Dokter di AS Berhasil Lakukan Transplantasi Penis

Thomas Manning, pasien transplantasi penis di Massachusetts General Hospital, Boston, AS.  (BBC)
Thomas Manning, pasien transplantasi penis di Massachusetts General Hospital, Boston, AS. (BBC)

BOSTON – Pengumuman baru mengenai keberhasilan transplantasi penis pertama di Amerika Serikat menjadi kabar gembira. Keberhasilan transplantasi yang dilakukan pada awal Mei ini membawa harapan bagi banyak orang, termasuk veteran perang yang terluka. Tapi menurut ahli, prosedur ini juga mempunyai risiko yang harus dipertimbangkan dibanding manfaat bagi pasien.
Continue reading Wow! Dokter di AS Berhasil Lakukan Transplantasi Penis

Robot Leka, Teman Bermain Anak Autis

Robot Leka (maddyness)
Robot Leka (maddyness)

BB-8, robot canggih berbentuk bola yang bisa bergerak dengan menggelindingkan tubuhnya .  Robot dalam film Star Wars: “The Force Awakens”  itu sangat memikat penonton di bioskop. Robot canggih seperti itu mungkin belum bisa hadir di dunia nyata dalam waktu dekat. Namun, kini  ada robot bergulir  mirip BB-8 yang sedang dikembangkan,  yakni “Robot Leka”. Robot  ini ditujukan untuk membantu anak-anak berkebutuhan khusus, terutama anak-anak dengan autisme.
Continue reading Robot Leka, Teman Bermain Anak Autis

Pria Kristen Jadi Ketua Panitia MTQ di Alor

Amran Olang (teropongalor.com)
Amran Olang (teropongalor.com)

BARU-BARU ini, persisnya 19 April 2016, Presiden Jokowi berbincang hangat dengan Perdana Menteri Inggris David Cameron, di Kantor PM Inggris, London. Dalam pertemuan itu, Presiden Jokowi mengatakan, “Sebagai negara muslim terbesar di dunia, Indonesia mempunyai peran untuk menunjukan kepada dunia bahwa dalam Islam, demokrasi dan toleransi dapat beriringan.” (Tempo.co)

Jokowi benar. Dan dia menyebut Islam, karena mayoritas penduduk Indonesia adalah penganut Islam dan wajah Islam Indonesia yang sebenarnya adalah Islam yang toleran. Wajah asli Islam Indonesia dengan mudah bisa kita temui di Pulau Alor, Nusa Tenggara Timur (NTT).

Continue reading Pria Kristen Jadi Ketua Panitia MTQ di Alor

Anak Emas dari Tomohon

KITA semua patut bangga bahkan berterima kasih kepada Christian George Emor. Pelajar SMA Lokon St. Nikolaus Tomohon, ini meraih medali emas dalam Olimpiade Fisika Internasional (IPhO) ke 41 yang digelar di Zagreb Kroasia 17-25 Juli.

Christian mengharumkan nama bangsa sekaligus mengharumkan Sulawesi Utara di pentas internasional melalui kecerdasan otaknya. Christian bersama empat rekannya memboyong empat medali emas dan satu medali perak dalam lomba yang diikuti 376 siswa dari 82 negara.

Tiga peraih medali emas lainnya adalah David Giovanni SMAK Penabur Gading Serpong, Banten, Kevin Soedyatmiko SMAN 12 Jakarta, dan Muhammad Sohibul Maromi SMAN 1 Pamekasan Madura. Satu peraih medali perak adalah Ahmad Ataka Awwalur Rizqi dari SMAN 1 Yogyakarta.

Prestasi para siswa cerdas itu meningkat dibanding tahun lalu di Merida, Meksiko, manakala Indonesia meraih satu medali emas dan empat medali perak. Tahun lalu, Christian “hanya” meraih medali perak dan tahun ini dia membawa pulang medali emas sesuai tekadnya yang disampaikan kepada Tribun, sebelum bertolak ke Kroasia.

Christian dan teman-temannya membuat kita semua bangga. Masih ada lima remaja di antara 240 juta penduduk negeri ini yang mampu menunjukkan kepada dunia bahwa Indonesia juga mampu melahirkan manusia-manusia brilian. Kendati potret negerinya karut marut oleh aneka persoalan yang tak kunjung berujung. Korupsi merajalela, saling jegal, saling menjatuhkan. Bahkan wajah pendidikan kita tak kalah karut marutnya oleh aneka pungutan liar. Si miskin tak bisa sekolah, si kaya malah dapat beasiswa.

Khusus Christian, menjadi seperti oase di tengah “kegersangan” tanah kelahirannya, Sulawesi Utara, yang kini riuh oleh percaturan politik para elite memperebutkan kekuasaan dalam pertarungan penuh intrik. Saling tuding, saling fitnah, saling menjatuhkan.

Pasangan Johni Emor dan Engni Lotisna melahirkan Sam Ratulangie baru bagi Sulut. Mereka melahirkan seorang anak emas bagi bangsa dan daerahnya. Ya, Christian adalah anak emas. Sebagaimana sifat emas, jenis logam mulia yang bernilai tinggi, mahal. Emas tak tergerus inflasi. Maka tak heran emas menjadi pilihan investasi paling aman.

Christian lebih dari sekadar emas. Dia tak ternilai oleh apa pun. Sehingga merupakan dosa besar bila negara ini, daerah ini, menyia-nyiakan dia. Kekhawatiran yang pernah diungkapkan Christian semestinya menjadi pukulan keras bagi kita semua. Christian bahkan sudah skeptis sejak jauh-jauh hari.

Dalam wawancara dengan Tribun sebelum bertolak ke Zagreb, dia mengeluh soal perhatian pemerintah terhadap kalangan ilmuwan. Sehingga dia ragu untuk terus mempelajari ilmu fisika yang sangat dikuasainya. “Kemungkinan sih kecil (jadi ilmuwan fisika), mengingat bagi seorang ilmuwan di Indonesia susah berkembang karena keterbatasan melakukan riset. Mungkin saya akan jadi masuk teknik informatika.”

Christian adalah aset daerah sekaligus aset bangsa ini. Jangan sampai nasib Christian menjadi seperti senior-seniornya yang akhirnya disabotase oleh bangsa lain lantaran disia-siakan oleh bangsanya sendiri. Atau malah tak mendapat perhatian negaranya sebagaimana David Hartanto Widjaja, alumni Olimpiade Matematika Internasional (OMI) 2005. David tewas mengenaskan di Nanyang Technological University, Singapura. Hingga akhir hayatnya, pemerintah negeri ini sama sekali tidak membelanya. (*)

Manado, 25 Juli 2010

Selamat Jalan Sang Penakluk

HANYA sehari jelang tutup tahun 2009, Sang Khalik memanggil pulang “Sang Penakluk”. Abdurrahman Wahid alias Gus

Gus Dur
Gus Dur

Dur, tutup usia pada pukul 18.45 WIB di  Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, Jakarta, Rabu 30 November  2009.

Menurut situs Wikipedia, Gus Dur terlahir dengan nama Abdurrahman Addakhil. “Addakhil” berarti “Sang Penakluk”. Tak diragukan lagi, pria kelahiran Jombang, 4 Agustus 1940 ini adalah sosok luar biasa dan sangat dihormati di negeri ini, bahkan di level internasional. Berbagai penghargaan dari masyarakat internasional menjadi bukti perjuangannya.

Kebesaran nama Gus Dur bukan lantaran dia pernah menjabat sebagai Presiden Republik Indonesia (20 Oktober 1999 – 23 Juli 2001) atau karena dia pernah menjadi Ketua Pengurus Besar Nahdatul Ulama (PBNU). Namanya harum karena selalu berpihak kepada pihak yang lemah dan teraniaya. Dia adalah tokoh bangsa yang terus mendorong dialog antaragama. Bahkan menimbulkan kontroversi karena pernah menerima undangan mengunjungi Israel pada Oktober 1994.

Dia juga dikenal sebagai sosok yang tak pernah berhenti memperjuangkan hak asasi manusia (HAM). Gus Dur memiliki keberanian luar biasa dalam membela kaum minoritas. Gus Dur berjuang bagi kaum minoritas melalui berbagai aras. Dia tak pernah berhenti mengkritik praktik politik di masa Orde Baru hingga sekarang.

Gus Dur adalah sosok yang luar biasa. Dia memiliki keterbatasan dalam penglihatan, namun hatinya dapat melihat dengan terang aneka ketidakadilan yang dihadapi masyarakat. Dia tak pernah berhenti memperjuangkan hal itu hingga akhir hayatnya. Satu yang paling dikenang adalah ketika dia membela umat beragama Konghucu di Indonesia dalam memperoleh hak-hak mereka yang terpasung selama era Orde Baru. Dia ditahbiskan sebagai “Bapak Tionghoa” atas perjuangan itu. Dia menentang keras rancangan undang-undang (RUU) Anti Pornoaksi dan Pornografi yang juga ditolak berbagai kalangan di negeri ini.

Gus Dur telah wafat, namun kiprahnya terus berlanjut sampai hari ini, melalui The Wahid Institute yang dipimpin putrinya, Yenny Zannuba Wahid. Institusi ini baru saja meluncurkan laporan Kebebasan Beragama dan Kehidupan Keagamaan 2009, hasil monitoring di 11 wilayah di Indonesia, antara lain di Provinsi Banten, NTB, Jawa Barat, Sulawesi Selatan, Jawa Tengah, dan Yogyakarta.

Hasil monitoring itu mendapati ratusan kasus pelanggaran HAM dan tindakan intoleransi oleh negara melalui fatwa-fatwa yang menghambat kebebasan beragama di Indonesia. Wahid Institute membeberkan berbagai peraturan daerah (perda) yang bernuansa agama tertentu, misalnya qanun jinayah ataupun perda soal zakat di beberapa daerah dan hampir 100 kasus tindakan intolensi yang dilakukan oleh kelompok masyarakat.

Mungkin Gus Dur bukan seorang penakluk sebagaimana nama lahirnya. Namun dia adalah seorang pejuang tak kenal lelah. Sosok yang memiliki semangat, visi, dan komitmen dalam memperjuangkan kebebasan berekpresi, persamaan hak, semangat keberagaman, dan demokrasi di Indonesia.

Selamat jalan Gus Dur. Namamu selalu harum dan akan terus dikenang. Kami hanya bisa berharap, semoga akan lahir seorang Gus Dur yang baru guna melanjutkan perjuangan tiada akhir dari “Sang Penakluk”.(*)

Sepasang Kaki Nadya Ditukar Ekor Duyung

Nadya Vessey si Putri Duyung (Daily Mail)
Nadya Vessey si Putri Duyung (Daily Mail)

DIA benar-benar tampak seperti putri duyung. Selain terlihat cantik dan seksi dalam balutan busana tersebut, Nadya Vessey (50) juga bisa berenang lincah layaknya seekor ikan.

Impian Nadya menjadi kenyataan. Perempuan asal Auckland, Selandia Baru itu kini menjelma menjadi putri duyung yang cantik dan seksi. Dia sebelumnya adalah penderita cacat pada kedua kakinya sejak kecil. Kaki kanannya diamputasi saat berusia 7 tahun dan kaki kirinya saat berusia 16 tahun.

Kini Nadya bisa menikmati hobinya berenang dengan lincahnya setelah mengenakan kostum rancangan para ahli spesial efek pemenang Piala Oscar dari Weta Workshop di Wellington. Perusahaan milik Richard Taylor tersebut adalah pembuat spesial efek untuk film-film box office seperti Lord of the Rings, The Chronicles of Narnia, dan King Kong.
Continue reading Sepasang Kaki Nadya Ditukar Ekor Duyung

Mari Belajar Sedikit dari Dirly Idol

Awak redaksi Tribun Batam foto bersama Dirly Sompie "Idol". Beta yang paling kiri..:D
Awak redaksi Tribun Batam foto bersama Dirly Sompie “Idol”. Beta yang paling kiri..:D

SUDAH jadi artis beken yang namanya terkenal hingga ke pelosok negeri, tak membuat Dearly Dave Sompie alias Dirly “Idol” (20) berubah jadi sosok yang sombong. Kakinya tetap memijak Bumi. Runner up Indonesian Idol III (2006), ini tak mau melupakan jasa orang-orang yang telah mengantarkannya menuju popularitas dan kemapanan ekonomi di usia belia.

Nyong Manado kelahiran 10 Desember 1989, ini kelihatannya bukan tipe kacang lupa kulit. Berkali-kali dia bilang, dirinya bukan siapa-siapa tanpa dukungan orang-orang di sekitarnya, terutama kakak kandungnya, Diana Sompie.

“Saya bisa seperti sekarang ini berkat perjuangan keras dan tak kenal menyerah dari kakak perempuan saya. Juga orang-orang yang telah mendukung saya sejak audisi,”ujarnya saat bertandang ke kantor redaksi Tribun Batam, Kompleks MCP Batu Ampar, Jumat ( 13/2/2009 ) sore.

Continue reading Mari Belajar Sedikit dari Dirly Idol

Membantah Biografi Des Alwi

Mohammad Jusuf Ronodipuro (Inside Indonesia)
303 (Inside Indonesia)

BAPAK berulangkali menceritakan peristiwa yang terjadi pada sore hari tanggal 17 Agustus 1945 di gedung radio militer Jepang, Hoso Kyoku. Kejadian ini sudah banyak dikisahkan di berbagai publikasi. Yang ingin ditegaskan oleh Bapak adalah peran Syahruddin, seorang wartawan Domei yang melompat pagar tembok di sisi Tanah Abang untuk menyampaikan pesan dari Adam Malik agar menyiarkan naskah proklamasi yang sudah dibacakan pada pagi harinya.

Bapak merasa perlu menceritakan ini untuk membantah pernyataan Des Alwi yang mengatakan bahwa ia lah yang menyerahkan naskah tersebut kepada Bapak. Pernyataan Des Alwi ini bahkan dituliskan secara gamblang dalam buku biografinya yang baru saja diterbitkan oleh Cornell University Press dan diluncurkan pada peringatan ulang tahun Des Alwi yang ke-80.

Kutipan dari buku tersebut “By seven o’clock the morning of the August 17, we were ready. The area around the radio station was tightly guarded by the Heiho, so we had to enter the station by jumping the back fence on the Tanah Abang side. I went in first, and all was quiet within. We were prepared to broadcast the text of the proclamation at 10.00 a.m.
Continue reading Membantah Biografi Des Alwi

Ibu, Pahlawan Saya…

Ibu saya menggendong cucu pertamanya, Michelle, yang tak lain anak saya.
Ibu saya menggendong cucu pertamanya, Michelle, yang tak lain anak saya.

IBU saya adalah seorang pahlawan yang luar biasa bagi kami, keempat anaknya. Saya  sangat merasakan kasih dan perjuangan luar biasa dari Ibu. Konon, menurut cerita keluarga di kampung, Ibu

saya hampir meninggal ketika melahirkan saya. Tapi asal tahu, Ibu saya tak pernah menceritakan itu kepada saya.

Dan ketika saya masuk SD, akhir tahun 1970-an, Ibu secara sembunyi-sembunyi selalu memberikan uang jajan Rp 50 setiap tiga hari dalam seminggu. Padahal Bapak saya paling tidak suka anak-anaknya diberi uang jajan. Dia menganggap ibu terlalu memanjakan kami.

Ketika saya SMA, Bapak  melanjutkan kuliah ke S1.  Biaya kuliahnya sangat besar untuk ukuran ketika itu. Padahal penghasilan Bapak saya yang hanyalah seorang guru SD di kampung, sangat tidak cukup.

Kami memang termasuk keluarga (cukup) miskin. Bapak dan Ibu kesulitan membiayai pendidikan kami dan ongkos transportasi kami ke sekolah.   Ibu saya tidak tinggal diam. Dia bekerja sangat keras untuk mencari tambahan. Dia memutuskan untuk berkebun. Menanam sayuran dan hasilnya dia jual untuk membantu biaya sekolah kami.  Pagi-pagi dia sudah harus bangun untuk menyirami tanamannya. Demikian pula saat sore. Malam hari pun dia nyaris tidak tidur karena harus menjaga kebunnya dari serbuan ternak sapi, kerbau, dan babi yang dilepas bebas oleh pemiliknya.

Hasil dari kerja sangat keras itu pun masih kurang. Sehingga seringkali Ibu saya harus membuang jauh-jauh rasa malunya dengan meminjam uang kesana kemari untuk ongkos transport dan biaya sekolah kami.

Tak hanya itu. Setelah menyiram sayuran di kebun, Ibu saya juga harus menjual ikan berkeliling kampung. Rumah kami memang dekat pantai. Dan Bapak saya bekerja sampingan sebagai nelayan.  Hasil tangkapan Bapak itulah yang dijual ibu berkeliling kampung. Bahkan sampai kampung sebelah. Dia berjalan kaki belasan kilometer untuk menjual ikan.  Kondisi itu berlangsung sampai saya menyelesaikan kuliah. Kami sering kasihan melihat Ibu bekerja terlalu keras. Bila liburan sekolah/kuliah atau hari Minggu, terkadang saya dan adik saya yang menjual ikan-ikan itu agar ibu bisa istirahat.

Tentu saja dia sangat capek. Tubuhnya yang kecil dan kurus itu dipaksa bekerja melampaui kemampuannya. Namun Ibu (juga Bapak saya) seolah punya energi ekstra dalam melakukan semua itu. Mengeluhkah Ibu? Tidak. Dia justru akan sangat marah bila kami tidak ke sekolah. Bila kami bolos, ibu sangat marah. Tapi dia tidak melakukannya dengan membentak-bentak kami. Dia melakukan dengan caranya sendiri. Menangis. Ya, dia  menangis.

Tangisan Ibu saya itu bermakna ganda. Pertama, dia tidak ingin kami putus sekolah karena kesalahan kami sendiri. Karena Ibu dan Bapak sudah bekerja demikian kerasnya untuk kami. Kedua, dia takut kami dimarahi Bapak. Sebagai guru tempo doeloe, Bapak mendidik kami dengan sangat keras. Jika tidak ke sekolah atau nilai kami rendah, kami ditampar dan tidak boleh dikasih makan. Bahkan adik saya pernah ditampar, ditelanjangi, lalu disuruh tidur di kandang babi, gara-gara bolos sekolah. Ibu sangat sedih bila kami diperlakukan seperti itu. Kami yang dimarahi, Ibu justru yang sakit karena terlalu banyak menangis.

Itulah sedikit dari sekian banyak perjuangan Ibu saya untuk mewujudkan kasihnya kepada kami. Dia adalah pahlawan yang luar biasa bagi kami, anak-anaknya.  Tiga dari empat anaknya berhasil menjadi sarjana berkat perjuangan keras Ibu. Selamat merayakan Hari Ibu. (*)