Google Art Camera menangkap detail lukisan “The Port of Rotterdam” karya Paul Signac. (livescience)

Kamera Gigapiksel Google untuk Melihat Detail Lukisan

Google Art Camera mampu menangkap detail lukisan hingga ukuran giga-piksel. (livescience)
Google Art Camera mampu menangkap detail lukisan hingga ukuran giga-piksel. (livescience)

KEINDAHAN lukisan mahakarya dari para pelukis terkenal dapat Anda pelototi hingga detail terkecil berukuran giga-piksel. Misalnya, Anda dapat melihat detail sapuan kuas sebagai tandatangan tersembunyi para pelukis besar – seperti olesan cat untuk menciptakan kesan pantulan cahaya di permukaan air yang bergolak dalam lukisan “The Port of Rotterdam” karya Paul Signac.

Google Cultural Institute (Institut Kebudayaan Google)  telah mengembangkan kamera khusus, sebuah kamera robotic yang bisa menghasilkan gambar beresolusi ultra-tinggi. Kamera ini mampu menangkap detail lukisan hingga ukuran giga-piksel atau lebih dari satu miliar piksel. Rincian ini kemudian bisa dilihat dengan mata telanjang.

Google Art Camera menangkap detail lukisan “The Port of Rotterdam” karya Paul Signac. (livescience)
Google Art Camera menangkap detail lukisan “The Port of Rotterdam” karya Paul Signac. (livescience)

Selasa 17 Mei 2016, ketika perayaan Hari Museum Internasional, Google mengumumkan bahwa perusahaan tersebut akan menyumbangkan kamera khusus ini untuk museum di seluruh dunia.

“Banyak mahakarya dari para seniman terbesar kita yang rapuh dan sensitif terhadap cahaya dan kelembaban. Dengan Art Camera, museum dapat berbagi karya-karya yang tak ternilai kepada masyarakat global sekaligus memastikan lukisan-lukisan itu dilestarikan bagi generasi mendatang,” tulis Google dalam blog mereka.

Dikendalikan secara robotik, kamera akan bergerak dari satu detail kecil ke detail berikutnya. Laser dan sonar membantu fokus kamera pada setiap sapuan kuas dengan mengukur jarak lukisan menggunakan gelombang suara frekuensi tinggi. Kamera ini menyorot (secara close-up) ratusan gambar resolusi tinggi, kemudian dengan software Google membuat salinan digital dari setiap potongan gambar tersebut menjadi salinan lukisan digital.

Google Cultural Institute – sebuah inisiatif dari perusahaan teknologi tersebut – yang berfokus pada pelestarian dan promosi budaya secara online, telah memindai dan mengarsipkan 200 karya seni dalam lima tahun pertama. Menggunakan Art Camera, Google mampu meng-capture dan mengoleksi 1.000 karya hanya dalam beberapa bulan.

“Waktu yang dibutuhkan untuk meng-capture berkurang sangat drastis,” kata Marzia Niccolai, Manajer Program Teknis dari Google Cultural Institute kepada The Verge. “Sebelumnya, untuk merekam satu gambar saja bisa menghabiskan waktu seharian. Sebagai gambaran, untuk meng-capture lukisan berukuran satu meter membutuhkan 30 menit,” imbuh Niccolai.

Art Camera membuka jalan bagi museum di seluruh dunia untuk menambahkan karya-karya baru ke arsip digital. Saat ini, Anda bisa melakukan rekreasi digital melalui website Google Cultural Institute untuk melihat detail mahakarya Monet, Rembrandt, Van Gogh, dan banyak pelukis terkenal lainnya. (Sumber: LiveScience)