Petinju Sulut Minim Perhatian

DUA bulan berturut-turut para petinju asal Sulawesi Utara dari Sasana Richard Engkeng Boxing Club, Munahasa Utara, mencetak prestasi gemilang dalam kejuaraan nasional tinju amatir di Batam dan Ambon. Dari Batam mereka membawa pulang enam medali emas dan dari Ambon, mereka membawa pulang delapan medali emas sekaligus menjadi juara umum.

Prestasi  tersebut tentu sangat membanggakan bagi daerah ini. Kendati telah membuktikan melalui prestasi gemilang, ternyata para petinju tersebut kurang mendapat perhatian dari pemerintah daerah. Padahal, sekali memberangkatkan rombongan petinju, pengelola sasana REBC harus mengeluarkan dana hingga Rp 150 juta. Bahkan, demi mengharumkan nama daerah, para petinju dan pelatih rela patungan untuk membeli tiket pesawat.

Pengurus Daerah Persatuan Tinju Amatir (Pertina) DKI Jakarta telah memonitor para petinju kita. Mereka bahkan sudah mengajukan tawaran kepada Sasana REBC untuk memboyong para petinju tersebut seharga Rp 150 juta per petinju untuk dipersiapkan membela panji DKI Jakarta pada Pekan Olahraga Nasional (PON) XVIII 2012 di Riau

Maka tak heran bila Richard Engkeng, pengelola sasana REBC mulai mempertimbangkan tawaran tersebut. Satu hambatan bagi dia hanyalah masih adanya rasa cinta terhadap Sulut, sehingga belum mau ‘menjual’ petinju binaannya kepada Pertina DKI Jakarta. Richard sangat kecewa karena pemerintah daerah dan KONI Sulut tetap tutup mata kendati para petinju Sulut telah membuktikan dengan prestasi gemilang.

Dalam empat tahun terakhir, sejak tahun 2005, para petinju binaan REBC telah 19 kali menjadi juara nasional. Semuanya tanpa dukungan pemerintah daerah, kendati mereka selalu membawa nama daerah. Hemat kami, semestinya para petinju tersebut mendapat perhatian pemerintah melalui organisasi seperti Pengda Pertina dan KONI. Ini demi prestasi yang lebih baik lagi di masa mendatang sekaligus mengembalikan kejayaan Sulut dari olahraga adu jotos itu.

Pada waktu lalu, Sulut pernah berjaya melalui olahraga tinju. Dua nama petinju asal Sulut, yakni Adrianus Taroreh dan Melky Lelengboto. Namun selepas itu, tidak ada lagi nama petinju Sulut yang berjaya di pentas nasional, apalagi internasional.

Hal yang patut disesali adalah janji-janji yang selalu diberikan kepada para petinju. Pernah menyatakan akan memberikan bantuan dana yang dianggarkan melalui Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD), namun hingga kini tak pernah sampai kepada ara petinju. Alasannyam menurut pengurus KONI Sulut, dananya masih tertahan di Biro Keuangan Pemprov Sulut.

Jika pun pemerintah tidak memiliki dana pembinaan, tidak ada salahnya sesekali singgah ke tempat latihan untuk memberikan dukungan moril bagi para petinju. Sayang, hal sesederhana itu pun tidak didapatkan para petinju dan pelatih mereka. Harapan kami, semoga dengan prestasi gemilang yang telah terbukti, mata para pemimpin kita terbuka sehingga mau memberikan perhatian. Apalagi kita sudah harus mempersiapkan diri menghadapi PON XVII di Riau, dua tahun lagi. Jangan kita hanya menginginkan nama harum tanpa ada upaya apa-apa.(*)