E-cigarettes (telegraph)

Rokok Elektronik Lebih Aman? Belum Tentu Juga…

Ilustrasi (telegraph)
Ilustrasi (telegraph)

JIKA sekarang Anda bukan seorang perokok, jangan coba-coba mengisap e-cigarettes atau rokok elektronik lantaran menganggap perangkat ini aman. Selain bisa mengantarkan Anda menjadi seorang perokok konvensional, rokok model baru ini bisa saja memiliki efek samping yang mungkin baru diketahui berpuluh tahun kemudian.

Sebuah penelitian di Inggris menyebutkan bahwa rokok elektronik belum tentu aman bagi kesehatan manusia. Penyakit yang diakibatkan oleh rokok elektronik ini bisa saja muncul 10-20 tahun kemudian. Demikian peringatan para peneliti di School of Public Health Imperial, London.

E-cigarettes (telegraph)
E-cigarettes (telegraph)

Data menyebutkan bahwa jumlah perokok Vaping (rokok elektronik) di Inggris meningkat hampir dua kali lipat antara 2012-2014. Dari sejumlah hasil penelitian, para peneliti dari universitas tersebut mengungkapkan bahwa rokok elektronik memiliki risiko kesehatan, tetapi belum diketahui secara pasti pengaruhnya dalam jangka panjang. Sehingga perlu secepat mungkin melakukan penelitian untuk mengungkap hal tersebut.

Pernah ada penelitian menyebutkan bahwa efek samping rokok elektronik tidak lebih merusak dari rokok konvensional. Informasi ini membuat banyak orang mulai memakai rokok ini.

Tetapi para ahli di Imperial College memperingatkan orang-orang untuk jangan “berjudi” atau mempertaruhkan kesehatannya dengan mengisap rokok elektronik.

Tahun lalu, Public Health Inggris mendesak delapan juta perokok di negara itu untuk beralih ke Vaping yang didukung oleh pemerintah lantaran rokok elektronik tersebut dianggap 20 kali lebih lebih aman dibanding rokok tradisional. Namun Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dan para ilmuwan dari London School of Hygiene and Tropical Medicine bersama University of Liverpool mengkhawatirkan keselamatan para perokok tersebut.

Laporan bahwa rokok elektronik lebih aman mendapat tanggapan dari Dr Filippos Filippidis, penulis utama penelitian dari Imperial College. “Penelitian itu membuat rokok elektronik menjadi sangat populer,” ujar Dr Filippidis.

“Namun ada perdebatan tentang risiko dan manfaat yang terkait dengan rokok elektronik. Misalnya kita tidak tahu apakah kita bisa mulai melihat penyakit muncul dalam waktu 10-20 tahun, terkait dengan beberapa bahan yang terkandung dalam rokok tersebut. Kita harus secepatnya melakukan penelitian mendalam mengenai dampak rokok elektronik sehingga kita bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan ini.”

“Tidak banyak negara melakukan apa yang telah dilakukan Inggris dan saya akan sedikit lebih berhati-hati. Di sisi lain, mungkin menjadi kesempatan besar bagi pengurangan dampak buruk dan jika Anda menunggu jawaban untuk lima tahun ke depan, mungkin jutaan orang tak lagi tertolong. Tapi saya pikir itu (rokok elektronik) masih sebuah perjudian.”

Proporsi orang di Inggris yang telah mencoba rokok elektronik meningkat dari 8,9 persen menjadi 15,5 persen antara tahun 2012 dan 2014. Sebagian besar dari mereka adalah para perokok yang beralih dari rokok tradisional, tetapi jumlah non-perokok mengisap rokok elektronik juga meningkat dari 0,8 persen menjadi 2,1 persen pada periode yang sama. Berarti ratusan ribu warga Inggris yang mungkin tidak pernah merokok telah mencoba rokok elektronik karena menilai aman bagi kesehatan mereka.

“Meskipun data ini menunjukkan sebagian besar orang yang menggunakan rokok elektronik adalah perokok atau mantan – yang menunjukkan rokok elektronik dapat membantu beberapa dari mereka untuk berhenti merokok – itu tetap mengkhawatirkan bahwa beberapa orang yang sebelumnya tidak pernah merokok kemudian menggunakan perangkat ini,” tambah Dr Filippidis.

“Hal ini menimbulkan pertanyaan apakah ini menjadi ‘pintu gerbang’ bagi mereka untuk menjadi konsumen rokok konvensional. Ada beberapa penelitian yang menunjukkan rokok elektronik memiliki beberapa risiko kesehatan dalam jangka pendek dan kita tidak tahu dampak jangka panjang. Mungkin ada manfaat kesehatan jika membantu orang berhenti merokok. Tapi kita hanya belum tahu. Kita tidak tahu apa yang akan terjadi dalam 10 atau 20 tahun.”

Penelitian menunjukkan proporsi orang di seluruh Eropa yang menganggap rokok elektronik berbahaya telah hampir dua kali lipat, dari 27 persen menjadi 51 persen.

Cara kerja rokok elektronik adalah dengan memasukan nikotin ke paru-paru dalam bentuk uap. Perangkat ini mengandung nikotin dalam bentuk larutan propylene glycol atau glycerine dan air serta sedikit perasa. Ketika seseorang mengisap perangkat ini, sensor mendeteksi aliran udara dan memanaskan cairan di dalam selonsong, menyebabkan bahan di dalamnya menguap.

Penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Tobacco Control, menggunakan data lebih dari 53 ribu orang di seluruh Eropa menunjukkan bahwa Prancis memiliki perokok elektronik tertinggi di Eropa. Satu dari lima orang yang disurvei mengatakan mereka telah mencoba rokok elektronik tersebut.

Diungkapkan pula bahwa masyarakat perkotaan dalam rentang usia 18-24 tahun dan yang lebih berpendidikan sangat mungkin memiliki atau pernah mencoba rokok elektronik. (sumber: telegraph)