Thomas Manning (nytimes)

Wow! Dokter di AS Berhasil Lakukan Transplantasi Penis

Thomas Manning, pasien transplantasi penis di Massachusetts General Hospital, Boston, AS.  (BBC)
Thomas Manning, pasien transplantasi penis di Massachusetts General Hospital, Boston, AS. (BBC)

BOSTON – Pengumuman baru mengenai keberhasilan transplantasi penis pertama di Amerika Serikat menjadi kabar gembira. Keberhasilan transplantasi yang dilakukan pada awal Mei ini membawa harapan bagi banyak orang, termasuk veteran perang yang terluka. Tapi menurut ahli, prosedur ini juga mempunyai risiko yang harus dipertimbangkan dibanding manfaat bagi pasien.

Dikutip dari LiveScience, Selasa 17 Mei 2016, para dokter dari Massachusetts General Hospital di Boston, mengumumkan pada Senin (16/5/2016), bahwa seorang pria berusia 64 tahun di Massachusetts telah menjadi orang pertama di AS yang menerima transplantasi penis. Pasien bernama Thomas Manning, kehilangan penisnya pada 2012 karena kanker penis ganas. Pria yang alat kelaminnya terluka, bisa mengalami persoalan psikologis yang parah, seolah luka ini dapat memengaruhi identitas mereka.

Operasi transplantasi yang berlangsung selama 15 jam pada 8 dan 9 Mei 2016 itu, tim dokter berjumlah lebih dari 50 orang dan lintas departemen melakukan penyesuaian dan menghubungkan pembuluh darah dan saraf penis dari donor yang meninggal ke pembuluh darah dan saraf pasien penerima donor. Sebelumnya, para dokter telah melakukan persiapan lintas departemen selama tiga tahun. Tujuan dari transplantasi penis tersebut adalah untuk merekonstruksi penampilan, membuat proses buang air kecil bekerja baik,  dan (mungkin) mendapatkan kembali fungsi seksual.

Kepada New York Times, Manning mengatakan dirinya merasa baik dan hampir tidak merasakan sakit apapun. Dia juga berterima kasih kepada dokter dan keluarga dari donor: “Hari ini saya memulai babak baru yang penuh dengan harapan pribadi dan harapan bagi orang lain yang telah menderita cacat genital, terutama untuk mereka yang mempertaruhkan nyawa untuk kami dan menderita kerusakan serius sebagai hasilnya. Dalam berbagi keberhasilan ini dengan kalian semua, harapan saya kita bisa mengantar masa depan yang cerah untuk jenis transplantasi.

Thomas Manning (nytimes)
Thomas Manning (nytimes)

“Tujuan dari program transplantasi, pada akhirnya, adalah untuk membantu para veteran yang terluka, pasien kanker, dan korban kecelakaan menjadi lebih baik, bukan hanya secara fisik, tapi secara psikologis.

Dokter dari pihak rumah sakit itu menyatakan optimistis Manning akan mendapatkan kembali semua fungsi yang hilang akibat kanker. Menurut New York Times, penis Manning hanya tersisa satu inci akibat kanker dan dirinya merasa putus asa ketika berhubungan intim. Selama ini dilaporkan hanya ada satu transplantasi penis yang berlangsung sukses penis, yakni pada tahun 2014 di Afrika Selatan.

Asal tahu, transplantasi penis di Afsel ditangani oleh dokter Andre van der Merwe. Operasi terhadap pasien dengan nama samara “Dicky (21)” bukan hanya berhasil memberinya penis baru, tetapi juga berfungsi dengan baik. Bahkan  dia bisa membuahi sang pacar.

Tahun 2006 silam, operasi transplantasi penis dilaporkan sukses dilakukan di Tiongkok. Tetapi, sepuluh hari setelah operasi itu, pasien berusia 44 tahun dan istrinya meminta agar penis barunya dilepas lantaran tak bisa mengatasi trauma psikologis. Keduanya menganggap bahwa itu tetap saja alat kelamin milik orang lain.

Bisa berisiko

Menurut ahli, orang yang mengalami cedera pada penis, transplantasi mungkin memiliki beberapa keunggulan dibandingkan prosedur rekonstruksi biasa,  misalnya, menggunakan jaringan otot dari bagian lain tubuh pasien, seperti lengan atau paha. “Tetapi beberapa pria yang telah menjalani prosedur ini tidak akan mendapatkan kembali fungsi seksualnya,” kata Dr Lee Zhao, asisten profesor urologi di NYU Langone Medical Center, yang tidak terlibat dalam operasi transplantasi Manning.

DOkter DIck
Direktur Massachusetts General Hospital ,Dr. Dicken Ko (kiri) dan Dr. Curtis Cetrulo. Keduanya terlibat dalam tim operasi transplansi penis bagi Thomas Manning. (Thesun/AP:Associated Press)

Untuk orang-orang ini, kata Zhao, dokter dapat melakukan operasi lain untuk menempatkan implan penis yang bisa menolongnya tetap memiliki ereksi. Tapi dengan transplantasi penis, pasien mungkin dapat mencapai ereksi tanpa perlu implant. “Dan dari sisi kosmetik, penampilan penis hasil transplantasi mungkin lebih alami dibandingkan beberapa operasi rekonstruktif lainnya,” kata Zhao.

Namun, pasien yang menjalani transplantasi penis perlu mengonsumsi obat untuk menjaga sistem kekebalan tubuh (immunosuppressing) selama sisa hidup mereka, untuk mencegah tubuh menolak organ transplantasi. Dan obat-obatan ini, kata Zhao, memiliki risiko tersendiri, yakni justru bisa lebih rentan terhadap infeksi.  Selain itu, karena sistem kekebalan tubuh memainkan peran dalam memerangi kanker, Zhao khawatir penggunaan obat penekan kekebalan pada pasien yang pernah menderita kanker dapat meningkatkan risiko kanker kembali kambuh. Bahkan dengan obat penekan kekebalan yang dikonsumsi, masih ada kesempatan 6 sampai 18 persen tubuh pasien bisa menolak organ transplant. “Transplantasi penis adalah perkembangan menarik dalam bedah rekonstruksi kelamin … [tapi] kami benar-benar harus sadar akan risiko yang terlibat,” dengan obat  penekan kekebalan,” kata Zhao.

Masih menurut Zhao, ada kemungkinan terjadi kesalahan pada transplantasi penis seperti risiko yang terjadi ketika dokter memasang kembali penis yang diamputasi. Misanya terjadi penyempitan uretra (saluran kencing) karena jaringan parut, yang akan menyebabkan masalah dengan (proses) buang air kecil. Dan jika kulit penis tidak memiliki suplai darah yang tepat, beberapa jaringan kulit bisa mati.

Sementara Manning optimistis dirinya akan mendapatkan kembali fungsi seksual tanpa prosedur lain. Manning mengatakan, ia masih menjalani perawatan di rumah sakit selama 10 hari ke depan, selanjutnya dirinya akan selalu berhubungan dengan tim medis untuk memantau perkembangan. Apakah di antara Anda ada yang sedang memerlukan operasi seperti ini? 😀 (Sumber: LiveScience/CNN/BBC)